MARI PUTUS MATA RANTAI PENYEBARAN COVID-19. GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH - CUCI TANGAN DENGAN SABUN - DIRUMAH SAJA JIKA TIDAK ADA KEPERLUAN

Nasional

Nasional -12- 27 11:11

ACT Malang Tambah Penghasilan Guru yang Nyambi Jadi Tukang Sampah #SahabatGuruIndonesia


program sahabat guru dari act untuk membantu para guru


ameg.id- Program Sahabat Guru Indonesia yang diusung Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali membantu seorang guru bernama Dwi yang juga berprofesi sebagai tukang sampah. Bahkan, dirinya telah menjalani kedua profesi itu selama puluhan tahun untuk menambah penghasilannya.

Setiap pagi, Dwi menuju tempat pembuangan sampah sementara di samping Velodrom Malang. Meskipun penghasilannya rendah, namun rasa syukur membuat hidupnya tercukupi.

Pria asal Probolinggo ini merupakan seorang lulusan salah satu kampus pendidikan di Malang. Sejak menginjak semester 2, Dwi pun menjadi tukang sampah demi melanjutkan pendidikannya dan memenuhi kebutuhan di tanah rantau.

“Karena jadi tukang sampah ini juga saya bisa sampai lulus kuliah, jadinya saya teruskan sampai sekarang,” kata Dwi seperti siaran pers, Jakarta, Selasa (25/12).

Pekerjaan sebagai tukang sampah mmembantu profesinya saat ini, yakni sebagai guru honorer. Dwi mengajar di salah satu sekolah dasar negeri di Malang, Jawa Timur. Pasalnya, menjadi seorang guru merupakan cita-citanya sejak dulu.

Sebagai guru honorer gajinya begitu rendah, akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Dengan dua pekerjaan yang dijalaninya, Dwi mampu menghidupi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.

Menurut Dwi menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Walau digaji rendah, ia tetap bersyukur dan menganggap menjadi guru adalah tabungan amal untuknya.

“Guru dan tukang sampah tidak ada hubungannya, Saya menjadi guru secara professional, dan menjadi tukang sampah sebagai tambahan pendapatan bagi keluarga,“ terangnya.

Harapan Dwi bagi dirinya dan ribuan guru honorer lainnya dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. “Tidak ada orang hebat tanpa adanya guru, maka dari itu, bagi guru-guru di luar sana yang masih bergaji rendah tetaplah berjuang di jalan pendidikan,” pesannya.

Kisahnya merupakan satu dari potret kehidupan guru di pelosok negeri ini. Masih banyak guru-guru lain yang serupa perjuangannya demi pendidikan negeri ini. Hingga kini, masih ada 1.070.662 guru yang masih berstatus honorer dengan pendapatan di bawah UMR (rata-rata Rp 300.000 sampai dengan Rp 500.000 per bulan).

Harapan Dwi bagi dirinya dan ribuan guru honorer lainnya dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. “Tidak ada orang hebat tanpa adanya guru, maka dari itu, bagi guru-guru di luar sana yang masih bergaji rendah tetaplah berjuang di jalan pendidikan,” pesan guru yang turut menerima bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia oleh Global Zakat-ACT ini. (act/jnr/ameg)


Viewer 308

Similar Post You May Like