MARI PUTUS MATA RANTAI PENYEBARAN COVID-19. GUNAKAN MASKER SAAT KELUAR RUMAH - CUCI TANGAN DENGAN SABUN - DIRUMAH SAJA JIKA TIDAK ADA KEPERLUAN

Kota Malang

Kota Malang -12- 28 18:04

Aktivis MCW Dituduh Perkosa Dua Mahasiswi


istimewa


ameg.id- Dari malangpostonline.com, Aktivis Malang Corruption Watch (MCW) dituduh memperkosa dua mahasiswa. Tuduhan tersebut tersebar melalui media sosial sehingga membuat akun resmi MCW dihujat warga net. Malang Post berhasil menghubungi pihak yang mendampingi dua mahasiswi yang diduga menjadi korban perkosaan tersebut, Jumat (27/12) kemarin.

Pelakunya disebut berinisial Af, yang diketahui memang aktif dalam organisasi anti korupsi tersebut. Pendamping dua mahasiswi itu, Dina Putri Pertiwi kepada Malang Post mengatakan bahwa rangkaian peristiwanya persis dengan di rilis. Rilis kronologi tersebut memang dibuat oleh Dina, sapaan akrabnya.

Terduga korban Af yang pertama, berinisial X adalah seorang mahasiswi yang berkepentingan untuk mengambil data di MCW. Tentu untuk memenuhi tugas kuliahnya. Pada bulan Oktober 2018, terduga pelaku, yang merupakan salah satu aktivis (inisial Af) mengajak X pergi ke pantai.

Sesampainya di sana, Af beberapa kali memperkosa terduga korban. Dan terus memaksa X hingga akhirnya ia marah besar dan Af menghentikan perbuatannya. Kemudian, pada 20 November 2018, terduga pelaku kembali mengajak X untuk kembali berkemah di pantai. Di sana, Af kembali memaksa X untuk melakukan aktivitas seksual. Saat itu, terduga korban melakukan penolakan keras dan Af berdalih bahwa seks adalah bukti dari kasih sayang.

Kemudian, sekitar bulan Desember 2018, saat terduga pelaku ditugaskan oleh MCW untuk menjadi pemateri di Blitar, ia mengajak X untuk menemaninya.

Di sepanjang perjalanan, Af terus merayu korban untuk istirahat di hotel. Saat itu, terduga korban sempat menolak berkali-kali, lantaran merasa kecewa atas tindakan Af ketika kemah. Saat itu, kondisi X terdesak karena jauh dari pertolongan, sehingga ia menuruti keinginan Af dan kembali memperkosa X.

Peristiwa itu ternyata terus berlanjut. Ketika sedang berkencan di salah satu kafe di Merjosari, Af kembali mengajak X untuk tidur di hotel. Kemudian, X menolak dan beralasan sedang datang bulan. Karena tidak percaya, Af tiba-tiba melakukan pelecehan seksual sebagai pembuktian. Bahkan, terduga pelaku juga sering merayu X untuk mendokumentasikan aktivitas seksual dalam bentuk video tanpa persetujuan korban.

Selain itu, terduga pelaku juga sering membuat jokes seksis tentang keperawanan kepada korban. Terduga pelaku juga melakukan kekerasan ekonomi kepada korban, berupa eksploitasi materiil.

Terduga Korban Kedua Mahasiswi Pers Kampus

Masih sesuai rilis kronologis, belum selesai kasus tersebut, terduga pelaku kembali merayu seorang anggota pers mahasiswa, yakni Y. Saat itu, Y mendatangi kantor MCW untuk menyelesaikan tugas suatu berita. Di mana, narasumbernya adalah terduga pelaku.

ekitar bulan Agustus 2019, terduga pelaku mengajak Y camping di pinggir pantai. Sebelum berangkat terduga korban telah membuat batasan hubungan dengan Af. Namun, ia melanggar perjanjian dan kembali memaksakan serangkaian aktivitas seksual.

Kemudian, pada bulan September 2019, Af dan Y nongkrong di salah satu warung kopi. Setelah itu, keduanya pergi menuju Kota Batu. Di sepanjang jalan, Af merayu Y untuk menginap di salah satu hotel dengan alasan sudah larut malam. Bahkan, terduga pelaku memaksa Y membayar hotel tersebut, karena Af tidak memiliki banyak uang.

Sebab, posisi terduga korban yang cukup jauh dari pusat pertolongan dan waktu yang larut malam, Y terpaksa menurutinya. Kemudian, terduga pelaku kembali memperkosa Y.

Dina sendiri membenarkan adanya kronologi yang ditulisnya. Namun, ketika diklarifikasi, ia masih belum bisa memberikan banyak komentar.

“Mohon maaf, kami tidak bisa memberikan statement apapun. Hanya bisa menyampaikan rilis penyataan yang sudah dibuat,” terang dia.

Sebab, saat ini, pihaknya masih fokus untuk memberikan pendampingan kepada terduga korban.

“Untuk dua orang korban, saat ini kondisinya masih belum stabil. Untuk itu, kami fokus melakukan pemulihan,” lanjut dia.

Ketika ditanya lebih lanjut, apakah akan ada upaya mediasi dan langkah hukum, Dina juga enggan memberi komentar.

“Untuk saat ini, kami masih belum tempuh jalur hukum. Ditunggu saja perkembangannya,” pungkas dia.

Sementara itu, rilis kasus kronologis tersebut membanjiri akun Instagram @mcwngalam. Warga net menyerang dengan kata-kasata kasar. Seperti yang dilontarkan oleh @nitashany “Lembaga gila lo ya. Pelaku udah jelas-jelas melakukan kekerasan seksual malah dinormalisasi dengan dalih ini urusan pribadi bukan urusan Lembaga. Terus ngamcam-ngancam dipendamping buat dilaporin polisi? Gila’. Kemudian akun @andinodelliayk menambahkan komentar memalukan dan akun @azizemonade kalo emang memberantas korupsi, korupsi terhadap hak control tubuh seseorang yang merugikan orang tersebut harusnya diberantas juga dong?

Selain itu, salah satu akun twitter @Lini_ZQ juga memosting terkait peristiwa itu. Lini menulis “Pagi-pagi mendapati pesan, sebuah rilis tentang seorang aktivis anti korupsi pelaku kekerasan seksual. Korbannya lebih dari satu,” . postingan tersebut mendapat 46 retweet dan 98 likes dari warga net.

Menanggapi tuduhan tersebut, MCW langsung melakukan klarifikasi, Jumat (27/12), kemarin. Koordinator Badan Pekerja MCW, M. Fahrudin Andriyansyah mengatakan, secara kelembagaan pihaknya mengutuk dugaan kejahatan seksual, yang diduga dilakukan oleh seorang oknum, yang saat ini masih aktif.

“Kami meyakini kejahatan seksual ini adalah pelanggaran yang harus dimusuhi. MCW tidak diam saja, kami membentuk satu tim khusus untuk melakukan pendalaman terhadap informasi yang berkembang. Karena informasi yang beredar di media sosial ini liar sekali,” terang dia.

Lebih lanjut, Fahrudin menguraikan, tim khusus yang dibentuk oleh MCW akan melakukan investigasi terhadap kasus tersebut. Proses klarifikasi ini menjadi salah satu bagian dari upaya MCW untuk memperdalam kasus ini.

“Kami juga siap menerima pihak pendamping untuk duduk bersama menyelesaikan masalah ini. Jadi kita tahu apa yang diinginkan pendamping dan korban,” ujar Fahrudin.

Pada kesempatan tersebut, MCW menghormati segala upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan pendamping. Namun, hingga saat ini belum mendapatkan informasi yang valid dan memadai dari pihak yang berkompeten.

“Sehingga, kami masih terus mengupayakan bertemu dengan pendamping mau pun korban,” jelas dia.

Dia menegaskan, MCW juga tidak akan menutupi atau bahkan melindungi terduga pelaku yang melakukan kekerasan seksual. “Kami juga berharap, terduga korban bisa mendapatkan haknya,” lanjut dia.

Menurutnya, gerakan anti korupsi yang dibentuk tidak dapat dipisahkan dari gerakan perempuan. Sehingga ia mendukung langkah pendamping korban dalam kasus ini.

”Tetapi, dalam proses pembuktian kebenarannya harus dilakukan dengan skema yang jelas. Pembuktian tidak boleh serampangan, harus dengan SOP yang jelas,” ungkap pria berkacamata ini.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus MCW, Lutfi J. Kurniawan menambahkan, dalam menangani kasus ini, MCW menggunakan perspektif perlindungan korban, namun tetap memakai azas praduga tak bersalah.

“Yang jelas kasus ini tidak akan menghalangi upaya kami dalam mengawasi kasus korupsi,” tegas dia.

Lethfi menegaskan, dalam kasus ini, sempat ada tuntutan pemberhentian terhadap terduga pelaku. Namun, sampai saat ini, pihaknya masih belum bisa memberikan keputusan.

“Kami perlu melakukan pendalaman terhadap masalah yang terjadi, dan akan menindaklanjuti sesuai mekanisme internal organisasi. Selain itu kami akan menyelesaikan kasus ini   melalui mekanisme (Perspektif perlindungan korban, Red) yang tepat,” lanjut dia.

Bahkan, Luthfi juga meminta kepada seluruh pihak untuk menahan diri dan tidak terpengaruh dengan informasi yang masih belum bisa dibuktikan kebenaraannya.

“Sehingga, dapat menimbulkan sikap dan tindakan yang mengarah kepada fitnah dan ujaran kebencian, yang secara langsung maupun tidak langsung akan memecah belah dan menghambat soliditas dan solidaritas gerakan bersama,” tandas dia.

Dia menambahkan, MCW membuka lebar ruang untuk diskusi terkait kasus tersebut. “MCW membuka kesempatan dialog dan duduk bersama cari solusi,” pungkas dia. (mp/ameg)


Viewer 319

Similar Post You May Like