Selamat Datang Di Aremamediaonline berita Cepat, Tanggap dan Akurat

Kota Batu

Kota Batu -05- 18 05:39

Ekspedisi Masuknya Islam di Lor Brantas Kota Batu


istimewa


ameg.id- Dilansir dari malangpostonline.com, Tim Ekpedisi Panatagama kali ini mengulas tentang sejarah perkembangan dan penyebaran Islam di Kota Batu. Beberapa di antaranya adalah Gadung Melati di Punten Bu­miaji, Mbah Batu Abu Gnonaim di Bumiaji, Mbah Bener di Temas dan Mbah Banter Ngaglik. Serta Mbah Matsari di Pesanggarahan. Namun da­lam beberapa edisi ke depan, kita akan mengulas masuknya Islam di Lor Brantas atau utara Sungai Brantas.

Dalam pembahasan kali ini dimulai dengan salah beberapa peninggalan penting. Mengingat sejarah Islam di Kota Batu masih terserak. Perlu diketahui, untuk menggali sejarah Islam di Kota Batu akan dimulai dari pembagian Kota Batu menjadi dua bagian. Yakni Lor (Utara.red) Brantas (nama sungai.red) dan Kidul (Selatan.red) Brantas.

Dalam perjalannya ada beberapa peninggalan penting. Pertama di Makam Gadung Melati di Dusun Krajan, Desa Punten, Kecamatan/Kota Batu. Gadung Melati sendiri berada di antara perpecahan sungai Brantas. Di sini perpecahan sungai itu  bisa disebut Brantas Wedok dan Brantas Lanang.

Penamaan perpecahan sungai seperti diatas juga terjadi di beberapa daerah. Misal ada sungai Bengawan Solo Lanang dan Wedok. Untuk sungai Brantas di Kota Batu Brantas Lanang bersumber dari  Sumber Gunung Anjasmoro. Sedangkan Brantas Wedok dari Gunung Welirang.

Kembali ke jejak Islam, Gadung Melati berada di tepi aliran sungai yang ada di Brantas Lanang dan tidak terlalu jauh dari sumber air, salah satunya sumber Banyuning di Punten dan sumber lainnya. Sumber-sumber ini adalah sumber penting di Kota Batu yang menandai sejarah Islam.

Mulai dari Lor Brantas inilah ada makam Gadung Melati dan Mbah Batu. Sementara dalam legenda lokal Kota Batu sangat sederhana. Yakni yang menjadi cikal bakal. Orang menyebut dengan sing babat atau sing mbedah kerawang Kota Batu itu adalah Mbah Batu. Dan ada pula yang menyebut mbatu diambil dari pelafalan yang medok.

Tim ahli Ekspedisi Panatagama Malang Post M. Dwi Cahyono, menegaskan bahwa Kata Batu sebenarnya menunjuk kepada nama tempat. Batu adalah tempat suatu tokoh yang berada di areal yang bernama Batu, saat ini Kota Batu. Muasalnya adalah suatu desa yang bernama Batu.

“Sebelum berkembang jadi kecamatan dan kota. Sebuah desa yang ada di Lor Brantas yang sekarang bernama Desa Bumiaji,” ujar Dwi yang juga arkeolog Universitas Negeri Malang.

Ia menjelaskkan lebih lanjut, nama Batu jauh sebelumnya sudah ada. Bahkan disebutkan dalam prasasti Jiyu dari abad XV, masa Majapahit Dinasti Girindrawardana. Dalam prasati Jiyu diterangkan Dwi, disebut menetapkan sebuah desa sima atau desa perdikan.

Desa perdikan artinya desa yang diberi kewenangan tanpa pungutan pajak oleh pemerintah pusat saat itu. Atau dikelola sendiri dan hasil pajak itu yang dimanfaatkan untuk pembangunan Trailokyapuri (Tempat suci, red). Saat itu ada di daerah Pacet.

Bahkan, salah satu desa perdikan dalam prasasti itu disebut deseng batu atau desa ing batu. Dan letaknya paling Selatan di Kota Batu saat ini. Dalam prasasti itu pula diterangkan daerah tersebut secara geografis berada di pegunungan dan tebing curam. Yakni gunung Welirang yang memiliki nama kuno Walirang.

“Jadi deseng Batu adalah desa yang letaknya di Selatan. Yakni sekarang Bumiaji. Yang pada abad XV adalah desa yang sudah maju. Sehingga bisa diterangkan bahwa bahwa Mbah Batu atau yang disebut dengan Abu Ghonaim atau Rojoyo bukanlah yang pertama kali mbabad alas Kota Batu. Begitu juga dengan Gadung Melati,” bebernya.

Bisa diartikan pula Mbah Batu sebagai babad alas Kota Batu adalah legenda. Bukan sejarah. Karena sebelumnya sudah ada kehidupan yang sangat maju merujuk dari prasasti Jiu.

“Ketika Mbah Batu ada di Bumiaji, desa batu sudah ada. Tepatnya abad XV pada masa Hindu Buda. Sedangkan secara garis besar Mbah Batu adalah tokoh Islam yang berjasa menyiarkan Islam di Kota Batu untuk kali pertama,” tegasnya.

Jadi Mbah Batu bukanlah orang pertama kali membabad Kota Batu. Tapi orang yang berjasa. Bahkan jauh sebelum masa abad XV masa Majapahit dinasti Girindrawardhana, Batu sudah ada sejak abad ke X dan disebut dalam prasasti Lord Minto atau Sangguran tahun 927 masehi. Yang dulu ditetapkan sebagai desa perdikan juga.

Dari perjalanan itu, paling tidak Mbah Batu mulai masuk dan menyebarkan Islam di Kota Batu sejak abad ke XVI atau XVII Atau XVIII. Penyebaran Islam itu terkait dengan Kasultanan Mataram yang saat itu, paling tidak ada abad XVII atau XVIII.

Jadi ditegaskan sekali lagi bahwa Bumiaji atau Batu bukan buah usaha Mbah Batu yang awalnya hutan kemudian dibuka menjadi pemukiman. “Bukan seperti itu. Tapi Mbah Batu adalah yang berjasa menyebarkan agama Islam atau Islamisasi. Terutama Islamiasasi daerah Lor Brantas. Khususnya lagi di Bumiaji,” terangnya.

Lebih lanjut, mengenai Bumiaji sendiri diartikan penguasa atau raja. Sehingga, kembali pada melihat prasasti Jiyu, Bumiaji adalah desa yang diberi raja, sebagai desa perdikan peninggalan masa Hindu Budha. Itu bisa dibuktikan adanya peninggalan batu bata besar. Saat ini sudah direnovasi.

Pertimbangannya, batu besar itu adalah tempat bangunan suci atau pemukiman Hindu Budha. Tapi memasuki perkembangan Islam areal ini dijadikan areal makam. Misalnya di makam Mbah Batu dan juga Gadung Melati. Itu dibuktikan oleh Tim Ekpedisi Panatagama di dua makam tersebut. (mp/ameg)

Terus simak berita-berita terupdate lainnya hanya di malangpostonline.com dan jangan lupa ya download aplikasi ameg.id yang tersedia di playstore smartphone anda.


Viewer 29

Similar Post You May Like