Selamat Datang Di Aremamediaonline berita Cepat, Tanggap dan Akurat

Kabupaten Malang

Kabupaten Malang -03- 14 18:32

Mengintip Aktivitas Ponpes Yang Diterpa Isu Kiamat


istimewa


aremamediaonline.com- Nama Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin, Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang menjadi viral beberapa hari. Ponpes ini sempat diperbincangkan karena isu kiamat di bulan Ramadhan tahun ini.

Setelah diterpa isu yang tak bisa dipertanggungjawabkan itu, aktivitas di Ponpes asuhan Miftahul Falahil Mubtadin berjalan normal. Sebelumnya ponpes ini dijaga ketat pihak keamanan.

Mayoritas santri berasal dari luar daerah, seperti Lampung, Mojokerto, Kabupaten Malang, dan banyak lagi. Jumlahnya sekitar 300 jamaah. Sedangkan santri berjumlah sekitar 500 santri.

Salah satu jamaah asal Lombok, Heri Siswandi alias Ajis (48) sudah tujuh tahun menjadi jamaah. Ia tidak menetap di Ponpes. Hanya saat bulan rajab ini. 

Ia menginap di sekitar Ponpes bersama keluarga dan kakaknya. Ajis menceritakan memang benar ia membawa gabah 5 kwintal. Untuk persiapan selama menginap bulan Ramadhan ini. Setelahnya pulang kembali. 

"Sewa rumah disini untuk persiapan ramadhan. Saya kesini tidak ada yang memaksa. Dari diri sendiri. Begitu juga dengan gabah yang saya bawa," bebernya dilansir Malangpostonline.com

Dalam sehari-hari kegiatan yang dilakukan ngaji, sholat, dan mendengar tausiah. Sehari-harinya, Ia bekerja sebagai penjual bibit buah. Saat ini pekerjaan itu ia titipkan ke kekeluarga. Terkadang ia juga pulang untuk mengecek.

Ia juga menceritakan awal masuk dalam Ponpes membawa modal Rp 10 juta satu keluarga selama menginap. Karena sewa rumah telah ditanggung kakaknya. 

Menanggapi isu yang beredar mengenai kewajiban membeli pedang, ia menepis informasi itu. Menurutnya informasi itu disebarkan orang tak bertanggung jawab.

"Cuma orang yang tidak senang bikin isu seperti itu. Menjual aset memang. Misal di rumah punya sapi untuk makan. Masak minta Pak Kyai untuk makan. Kan saru," bebernya. 

Begitu juga masalah foto Z ponpes diungkapnya hal itu wajar. Menurutnya para jamaah diminta membeli foto seharga Rp 200 ribu. Sedangkan isu yang beredar foto pengasuh ponpes dibanderol Rp 1 juta.

"Sebagai murid punya mursid kita beli fotonya. Itu saja. Foto tersenu juga tak digunakan untuk anti gempa," imbuhnya.

Begitu juga dengan Siti Ngapuah, jamaah asal Lampung yang sudah mpat bulan sewa rumah di sekitar Ponpes. Ia mengatakan hal sama. Disan ia mengaji, rejepan, syabanan, dan romadhonan.

Ia juga membawa bekal persiapan berupa beras, gabah dan mie instan. Ia sewa kos bersama suami, anak dan mantunya. Dengan harga kos Rp 3 juta satu tahun.

"Untuk biaya kami bawa dari hasil bertani. Sekarang karena disini. Ladang saya sewakan dan bagi hasil dengan penggarap. Kali ini saya kesini pengen puasa dekat guru. Tidak ada suruh dan yang meminta. Pengen sendiri," pungkasnya. (mp/dk/ameg)


Viewer 119

Similar Post You May Like