Sayembara lagu arema berhadiah menarik bagi pemenang, ayo kirimkan jawabanmu dengan sms ke : 0818383911, Pemenang akan diumumkan tanggal 31 Agustus 2019. Link video ada di berita ya !

Kota Malang

Kota Malang -04- 13 12:11

Rumah Sakit 'Lavalette' Berdiri Sejak Jaman Kolonial


istimewa


aremamediaonline.com- Rumah Sakit Umum Lavalette adalah pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang terletak di Jalan WR Supratman Nomor 10, Kota Malang. Ternyata rumah sakit ini memiliki perjalanan sejarah jatuh bangun yang menarik untuk disimak, terutama soal perubahan namanya.

Pada mulanya, rumah sakit ini hanya berbentuk sebuah klinik kesehatan milik pemerintah Hindia-Belanda. 

Konon, dulunya klinik ini menempati sebuah bangunan di daerah Kasin, Malang. Berawal dari ide para pengusaha perkebunan besar yang tergabung dalam sebuah yayasan bernama “Stichting Malangsche Zieken-verpleging”, Rumah Sakit Lavalette pun didirikan pada 9 Desember 1918.

Mulanya, yayasan tersebut membeli tanah sawah seluas 19.535 m2 dan tanah pekarangan seluas 7.870 m2 di daerah Celaket Malang, pada tahun 1914 dan tahun 1917. 

Kemudian, di atas tanah tersebut dibangun gedung yang memakan waktu kurang lebih satu tahun. Gedung itu pun digunakan untuk Lavalette Kliniek.

Nama Lavalette sendiri sebagai penghormatan untuk sang Ketua Yayasan, G. Chr. Renardel de Lavalette. Kala itu, dirinyalah yang menguasai saham terbesar sekaligus berjasa dalam pendanaan pembangunan klinik kesehatan ini.

Seiring berjalannya waktu, Lavalette Klinik mulai berkembang, bersamaan dengan berkembangnya daerah Celaket. 

Namun sayang, pada medio 1940-an, klinik ini mengalami defisit terus menerus. Hingga akhirnya muncullah usulan dari anggota yayasan agar segera diadakan likuidasi untuk Lavalette Kliniek.

Belum sempat terlaksana, usulan tersebut pun dibatalkan. Mayoritas anggota yayasan lebih memilih menambah pemasukan uang daripada melikuidasi klinik tersebut.

Usaha mencari solusi yang dilakukan yayasan adalah dengan mengubah fungsi sebagian bangunan Lavalette Kliniek menjadi Sanatorium untuk merawat pasien penyakit paru-paru. Ruangan-ruangan atau kamar-kamar Lavalette Kliniek juga disewakan kepada pemerintah atau pihak lainnya.

Ketika gencar-gencarnya adanya program nasionalisasi oleh pemerintah Indonesia terhadap perusahaan-perusahaan dan perkebunan milik Belanda, maka pada Mei 1958, Lavalette Kliniek diambil alih oleh badan milik pemerintah Indonesia yang bernama Pusat Perkebunan Negara.

Tiga tahun berselang, tepatnya 7 Januari 1961 Ketua Yayasan Stichting Malangsche Zieken-verpleging menyerahkan Lavalette Kliniek kepada Pusat Perkebunan Negara Cabang Jawa Timur. Klinik ini pun berganti nama menjadi Rumah Sakit Lavalette.

Setahun kemudian, pengelolaan Rumah Sakit Lavalette diserahkan oleh BPU PPN Perwakilan Jawa Timur kepada PPN Kesatuan Jatim III, tepatnya pada 26 April 1962, yang kemudian menjadi BPU PPN Gula Inspeksi Daerah VII. 

Terakhir, pada 19 Juni 1968 berdasar Surat Keputusan Panitia Likwidasi BPU PPN Gula dan PN Karung Goni No. XX-00050/68.005/L tanggal 19 Juni 1968 Rumah Sakit Lavalette diserahkan kepada pihak PNP XXIV dengan nama Rumah Sakit PNP XXIV Malang.

Saat itu, pengelolaan serta pembiayaan rumah sakit ini dilakukan langsung oleh kantor Direksi PNP XXIV di Surabaya. 

Hal tersebut sempat menimbulkan polemik, karena pembiayaan dirasakan sebagai beban yang sangat berat mengingat adanya defisit terus-menerus pada neraca keuangannya.

Masalah bertambah pelik lantaran keberadaan Rumah Sakit PNP XXIV Malang dianggap tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap karyawan pabrik-pabrik gula dalam wilayah PNP XXIV. 

Mereka tidak merasakan manfaat pelayanan kesehatan secara langsung, karena letak pabrik-pabrik tersebut yang terlalu jauh dari wilayah Kota Malang.

Berangkat dari fakta tersebut, sempat ada wacana dari Direksi PNP XXIV untuk menjual atau mengoperkan Rumah Sakit PNP XXIV Malang kepada pihak ketiga yang ingin mempergunakan bangunannya sebagai rumah sakit juga. 

Namun, wacana tersebut terlebih dahulu menguap karena tidak ada pihak ketiga yang sanggup menanggung pembiayaan rumah sakit. 

Direktur Jenderal Perkebunan Negara di Jakarta pun tidak mengizinkan wacana yang dimaksud.

Kemudian, pengelolaan RS PNP-XXIV Malang pun tetap dilakukan oleh Direksi PNP XXIV. (*/jnr/ameg)


Viewer 94

Similar Post You May Like