Sayembara lagu arema berhadiah menarik bagi pemenang, ayo kirimkan jawabanmu dengan sms ke : 0818383911, Pemenang akan diumumkan tanggal 31 Agustus 2019. Link video ada di berita ya !

Kabupaten Malang

Kabupaten Malang -07- 18 10:21

Sebelum Larung Sesaji, Tujuh Calon Dukun Adat Diuji


istimewa


ameg.id- Puncak acara Yadnya Kasada Bromo tahun 2019 berlangsung di Pura Ponten, Kamis (18/7) dinihari. Kegiatan ritual Suku Tengger ini ditandai dengan pembacaan mantra (doa) oleh Romo Dukun Pandita Suku Tengger Sutomo. 

Pukul 03.30, suasana pun seketika hening. Sekalipun udara di kawasan Gunung Bromo cukup dingin dengan suhu udara mencapai 7 derajat celcius, itu sama sekali tak mengganggu para umat untuk memanjatkan doa.

Tidak terkecuali para pengunjung atau wisatawan yang datang untuk melihat pemujaan. Mereka juga tampak hening. 

Sekitar 10 menit, pembacaan japa mantra dilakukan. Selanjutnya Sutomo meneruskan dengan pembacaan sejarah Kasada. Sama seperti pembacaan mantra saat pembacaan sejarah, umat juga mendengarkan dengan khusyuk. 

Sejarah Kasada ini diceritakan Sutomo menggunakan bahasa jawa. Sejarah itu mengisahkan sepasang suami istri yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger sebagai penguasa suku Tengger. Keduanya lama menikah, namun tidak memiliki anak. Sehingga mereka pun bersemedi. 

Doa keduanya pun dikabulkan. Namun syaratnya saat mereka memiliki keturunan, anak bungsu harus dikorbankan. Tapi demikian, meskipun dikaruniai 25 anak, keduanya memilih ingkar janji. Hingga akhirnya terjadi malapetaka. 

Gunung Bromo mengamuk dengan menyemburkan api dari perut bumi. Api kemudian mengenai anak bungsu pasangan Rara Anteng dan Joko Tengger. Dan saat anak bungsunya hilang terdengar suara, bahwa harus dilakukan larung sesajen di gunung Bromo tepat tanggal 14 bulan Kasada (Kalender Suku Tengger). Dan saat itulah upacara Kasada ini mulai digelar.

Dalam ritual Yadnya Kasada tahun ini berbeda dengan Yadnya Kasada tahun sebelumnya. Itu karena di tahun ini juga digelar seleksi calon sulinggih romo mangku dukun (dukun adat). 

Ada tujuh kandidat yang ikut seleksi sebagai calon dukun adat. Yaitu, empat orang dari Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, satu calon dukun adat desa Gubuk Klakah, kecamatan Poncokusumo dan dua orang calon dukun dari desa Ledok Ombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Pasuruan.

Ketujuh calon ini wajib mengucapkan japa mantra di hadapan Sutomo, sebadai pemangku dukun di seluruh Suku Tengger.

Sukarji, Kades Sedaeng , Kecamatan Tosari mengaku lega dengan adanya empat calon dukun yang ikut seleksi. Dengan adanya seleksi calon dukun, maka desanya pun akan memiliki dukun adat.

"Dukun adat yang lama meninggal tahun 2017 lalu. Selama itu kami tidak memiliki dukun adat. Jika ada kegiatan, kami selalu mendatangkan dukun dari luar desa. Itu sebabnya besar harapan kami pada seleksi ini, semoga satu orang lolos, dan siap menjadi dukun adat di desa kami," urainya.

Dia mengatakan tahun lalu tidak bisa mengusulkan dukun adat, karena merupakan tahun pahing. Sehingga seleksi dukun adat baru dilakukan tahun ini.

Calon dukun adat dari Desa Sedaeng sendiri ada empat. Pertama adalah Wagiri, kemudian Nomor dua adalah Maridinto, ketiga adalah Jais dan keempat adalah Indriyanto.

Para calon dukun ini datang tidak sendirian. Tapi bersama bersama keluarga. Tak terkecuali Indriyanto, dia datang diantarkan keluarga besarnya.

Iswantoro salah satu keluarga Indriyanto mengatakan jika menjadi dukun adat merupakan turunan. Sebelumnya adalah ayahnya yang meninggal karena sakit tahun 2017 lalu. 

Selanjutnya sang adik yaitu Indriyanto mendaftarkan diri menjadi calon dukun kepada Kades Sedaeng, dilanjutkan kepada Pemangku Dukun Suku Tengger.

Pengucapan japa mantra oleh para calon dukun ini berlangsung 10 menit. Dan kegiatan dilanjutkan dengan larung sesaji di kawah Gunung Bromo. Larung sesaji ini sendiri dilakukan saat matahari terbit. (mp/ameg)


Viewer 32

Similar Post You May Like